VISI DAN MISI



VISI DAN MISI YAYASAN


VISI
Terwujudnya lembaga sosial keagamaan yang terkemuka dan profesional melalui pemahaman nilai-nilai Islami secara utuh dan penanaman akhlaqul karimah yang membentuk karakter manusia menjadi profesional yang religius.


MISI
·       Menyelenggarakan Lembaga Pendidikan Islam melalui Pondok Pesantren yang berorientasi pada pengembangan potensi dasar intelektual, emosional  dan spiritual secara utuh dan dilaksanakan sejak dini guna membentuk pribadi muslim yang kuat, sehat cerdas dan bermoral, serta bermanfa’at (menjadi rahmat) bagi lingkungannya.
·       Memberikan pelayanan sosial keagamaan secara prima yang dikelola secara professional berbasis nilai dan budaya islami dalam bentuk pengkajian, bimbingan, pelatihan, konsultasi serta pelayanan sosial lainnya.
·       Menciptakan lingkungan yayasan yang kondusif sebagai pusat pengembangan masyarakat islam yang didukung fasilitas, ethos dan budaya kerja yang tinggi, serta hubungan yang harmonis (kekeluargaan)

STRUKTUR KEPENGURUSAN







SUSUNAN ORGANISASI YAYASAN

 Yayasan Baitul Izzah Karangsinom memiliki susunan Organisasi yang terdiri dari: Pembina, Pengurus, dan Pengawas.

1. Pembina             
    Ketua                   : Ust. Aris Setiawan
    Anggota                 : H. Solihin 
                                       Solikun 
2. Pengurus
    Ketua Yayasan     : Ruswa, S.Pd., M.Si.
    Sekretaris             : Drs. Bambang Mulyo Yudono
    Bendahara            : Johadi Sastro, SS.

    3. Pengawas
    Ketua                      : H. Herman
    Anggota                 : Rancas
                                       Ukar Suharja, SE.

PROFIL





1.        Nama Pondok Pesantren            : Baitul Izzah
2.      Nomor Keterangan Terdaftar    : Kd.10.12/PP.00.7/Pekapontren/003/2009
3.      Alamat                                              : Jl. Raya karangsinom, RT 01 Rw 01
 RW 01, Kec. Kandanghaur-Indramayu
 Jawa Barat.
4.      Pengasuh                                         : Ust. Aris Setiawan
5.      Ketua Ponpes                                 : Drs. Bambang Mulyo Yudono
6.      Tahun Berdiri                                 :  2002
7.      Jumlah Santri                                 : 97 orang
8.      Jumlah Tenaga Pengajar             : 10 orang
9.    Sarana & Prasarana                        :
a.    Luas Tanah keseluruhan       : 1.340 m²
b.    Luas bangunan                        : 987 m²
c.     Ruang Belajar                          : 2 Lokal
d.    Masjid                                        : 1 Lokal
e.    Perpustakaan                          : 1 Lokal
f.      Ruang Guru                              : 1 Lokal
g.    WC Guru                                    : 3 Lokal
h.    WC Santri                                  : 18 Lokal
10.    Prestasi                                            : -
11.    Jumlah Alumni                               : 332 Ustadz / Ustadzah


 

Video Profile Ponpes Baitul Izzah Indramayu

LDII Ramaikan JIC Dengan Halaqoh Tahfidzul Qur'an



LDII menghelat tahfidz masal di Jakarta Islamic Center (7/8). Kegiatan ini sudah dihelat dua kali dan pada perhelatan yang ketiga ini, diadakan secara masal mengundang 10.000 orang tahfidz se-Jabodetabekten.

Berdasarkan pantauan LinesIndonesia, saat ini sudah ada beberapa peserta yang hadir meski acara dimulai pada pukul 09.00 WIB. Peserta terlihat memasuki gerbang JIC, ada yang menunggu sambil menikmati jajanan kaki lima di sekitar JIC.

Menurut rencana, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendy akan membuka acara disusul oleh Ketua MUI Pusat Yusnar Yusuf. Pakar Pendidik Malik Fadjar juga direncanakan hadir memberikan materi.

Selain itu, beberapa Syeikh Masjidil Harom yang menjadi guru dari beberapa Ulama LDII seperti Kholil Bustomi, Abdulloh Mas’ud, dan  Abdul Aziz Ridwan saat menimba ilmu di Mekkah, akan hadir memberikan tausyiah dan semangat  kepada para peserta halaqoh.
Menghafal Alquran menjadi cara agar generus muslim  tidak terpengaruh terhadap kerusakan jaman. Gerakan menghapal Al-Quran kelak akan memicu kebangkitan umat Islam yang dimulai dari generasi muda.

Akhir-akhir ini memang marak pengaruh homo seks dan lesbian, radikalisme, narkoba, korupsi, dan pengaruh buruk lainnya menjangkiti generasi muda. Ini menjadi beberapa alasan mengapa LDII menggalakan gerakan menghapal Al-Quran

Abdul Aziz Ridwan dalam perhelatan Tahfidz Quran yang dihelat di Ponpes Minhaajurosyidin beberapa waktu lalu (24/4), memberikan nasihat dan manfaat dalam menghafal alqruan.
Pertama, Alquran sebagai detak kehidupan. Artinya, sikap dan tingkah laku dipenuhi dengan nilai-nilai Alquran. Hal itu terlihat dari ketenangan jiwa yang dimiliki.
Kedua, Alquran sebagai penjaga urusan, yaitu menjadi penyelamat dan petunjuk dalam menjalankan kehidupan.

“Berpegangan pada jalannya Allah, juga berpegangan pada Allah. Melalui Alquran, kita akan selalu dijaga. Al-Quran adalah penyembuh penyakit yang ada di dalam tubuh sekaligus rahmat. Warga LDII supaya menghayati maknanya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Yang ketiga, Alquran sebagai pembersih jiwa. Maksudnya dengan rutin membaca Alquran, Perlahan-lahan sifat jelek akan hilang. Memahami alquran akan menjadikan insan yang berbudi pekerti yang luhur serta mencerminkan pemuda atau pemudi salih dan salihah. Terakhir, Alquran sebagai jalur keselamatan. Alquranlah yang membuat seseorang mendapat kesuksesan dunia dan akhirat.


Cegah Maraknya HOAX, LDII Inisiatif Buat Protokol Media Islami



Jumlah pengguna internet di seluruh Indonesia kini telah mencapai 136 juta orang, sedangkan pengguna Facebook sendiri telah menyentuh angka 88 juta orang. Seiring dengan besarnya angka pengguna internet, maka peluang penyebaran berita palsu atau hoax terbuka lebar.
Hal itu diungkapkan Ketua DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan Hidayat Nahwi Rasul saat menjadi narasumber pengajian rutin DPD LDII Makassar di Masjid Raudhatul Jannah, Jalan Berua Raya, Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut Hidayat, hoax yang tersebar di media sosial adalah bagian dari perang proksi. Selain itu, hoax dijadikan sebagai alat untuk mengadu domba. “Bangsa ini sedang di adu domba. Akibatnya, kita saling melecehkan karena hoax,” ujar anggota White List Nusantara Kemkominfo ini.
Pihaknya mengatakan, LDII mengajak warganya agar santun dan produktif di media sosial. “Warga LDII jangan menyebar berita bohong. Baca berulang-ulang sebuah informasi sebelum menyebarkannya,” kata pria yang juga aktif sebagai Ketua Forum Telematika Kawasan Timur Indonesia (KTI) ini.

Ia mengingatkan, sebuah informasi yang telah disebar di media sosial, tidak akan bisa dihapus. “Ada yang disebut jejak digital. Yang menjadi persoalan adalah jika penyebar hoax telah meninggal dunia, sedangkan pesannya telah menjadi viral,” tuturnya.

Untuk itu, kata Hidayat, LDII mendorong penerapan protokol media sosial yang islami. “Informasi hoax adalah sumber perpecahan. Karena itu, harus mengedepankan klarifikasi atau tabayyun,” ujar pakar telematika ini.

Pihaknya mengingatkan dampak buruk informasi palsu yang beredar. “Jika kita salah mengkonsumsi obat, maka bisa berobat ke dokter. Namun, jika salah mengkonsumsi informasi, maka gaya hidup bisa berubah menjadi hedonis,” katanya.

Senada dengan Hidayat, pengajar Ponpes Raudhatul Jannah, Ustadz Abdul Muhsin mengajak peserta pengajian LDII meningkatkan ibadah pada 2017. “Orang yang cerdas adalah orang mengoreksi diri dan yang beramal sebagai bekal untuk kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan mendapat ampunan Allah SWT,” ujarnya. (wicak)

Sumber : www.ldii.or.id

HIKMAH MENIKAH






Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama. Kemudian diciptakan-Nya Hawa sebagai jodohnya dengan maksud agar Adam merasa tenteram hidupnya. Demikianlah yang tersirat dalam Al Quran surah Al A’raf ayat 189. Jadi, menikah itu sudah disyariatkan sejak jaman Nabi Adam.
 
Rasulullah Nabi Muhammad SAW menyabdakan tentang kehidupan dirinya: “Aku di malam hari bertahajud tapi juga tidur. Di siang hari kadang berpuasa, kadang juga tidak puasa. Dan aku pun menikah. Barangsiapa yang benci pada sunnahku maka dia bukan golonganku”. (HR Muslim). Selanjutnya beliau menganjurkan: “Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah memiliki kemampuan untuk menikah maka menikahlah. Menikah itu dapat lebih mengendalikan pandangan dan mencegah pelanggaran syahwat”. (HR Al Bukhari).

Hikmah selanjutnya dari menikah adalah membawa rejeki. Sebagaimana janji Allah: “Nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kalian, baik laki-laki maupun perempuan. Kalau mereka dalam keadaan fakir, Allah akan memberi mereka kecukupan”. (QS An Nuur 32). Sebagaimana Rasulullah SAW menyabdakan: “Nikahlah kalian karena isteri itu bisa mendatangkan rejeki”. (HR Al Hakim). Orang yang sudah menikah biasanya lebih bisa mengatur keuangannya. Ketika masih lajang gajinya habis untuk sendiri. Tapi setelah punya isteri jadi cukup untuk berdua, malah masih bisa menabung. Begitulah kalau Allah memberi rejeki.

Bila seseorang meninggal dunia maka putuslah semua amalannya. Karena dia sudah tidak bisa lagi shalat, puasa, maupun ibadah yang lain. Tapi ada tiga hal yang bisa tetap mengalirkan pahala meskipun yang bersangkutan sudah terbujur di alam kubur, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendoakannya. (HR Abu Dawud). Sedangkan anak yang shalih hanya bisa dimiliki oleh orang yang sudah menikah.

Orang yang menikah juga akan mendapat pahala yang lebih banyak. Karena apa yang dia berikan untuk anak isterinya berupa sandang pangan maupun papan akan bernilai sedekah di sisi Allah. Sampai-sampai hubungan badan dengan isterinya pun bisa menjadi pahala. Begitulah yang disabdakan oleh Rasulullah. Maka para sahabat bertanya: “Apakah betul, ya Rasulullah, bahwa orang melampiaskan syahwatnya kepada isterinya bisa menjadi pahala?” Rasulullah menjawab: “Bukankah kalau dia menyalurkannya kepada selain isterinya akan menjadi dosa? Berarti kalau dia menyalurkannya kepada isterinya tak pelak akan menjadi pahala”. (HR Muslim). (*)

Oleh: H Aceng Karimullah

Sumber: www.ldii.or.id

MENANGGULANGI RASA WAS-WAS



Oleh : H. Aceng Karimullah

Apabila kita sedang salat, misalnya salat Zuhur, kemudian kita merasa ragu apakah kita sudah dalam rakaat yang ke-4 atau masih dalam rakaat yang ke-3? Maka Rasulullah SAW mengajarkan agar kita segera mengambil keputusan dengan cara menganggap bahwa kita sedang dalam rakaat yang ke-3. Kemudian kita tambahi satu rakaat lagi dan akhirilah dengan sujud sahwi. Selesai. Kalau kita tidak segera mengambil keputusan maka bisa jadi sepanjang salat kita hati hanya bertanya-tanya saja “rakaat ke-3 apa ke-4?” dan kekhusyu’an salat kitapun akan terganggu.
Demikian pula ketika ada seseorang melapor kepada Rasulullah bahwa dia dalam salatnya merasa seolah-olah keluar angin. Rasulullah pun menjawab bahwa dalam keadaan ragu seperti itu orang tadi disuruh untuk segera mengambil keputusan dengan sabda beliau: “Lanjutkan salatmu, jangan hiraukan perasaan ragu yang mengganggumu kecuali kalau engkau yakin ada suaranya atau ada baunya alias engkau yakin bahwa itu adalah buang angin betulan”. Karena kalau hanya sekedar ragu, bisa jadi perasaan ragu itu justeru dihembus-hembuskan oleh syetan agar kekhusyu’an salat kita hilang.
Dalam hal berwudu, Rasulullah pernah berwudu dengan menggunakan air hanya +/- setengah liter. Karena kewajiban membasuh anggota wudu itu hanya 1 kali – 1 kali. Kalau kita membasuhnya 2 kali – 2 kali atau 3 kali – 3 kali, itu sifatnya kesempurnaan. Dan itu sudah cukup untuk menghilangkan hadas kecil. Maka kita pun harus merasa cukup dengan itu karena kalau berwudu dengan membasuh anggota wudu melebihi 3 kali – 3 kali itu malah tidak boleh. Rasulullah pun pernah mandi dengan menggunakan air hanya satu sho’ (+/- 3 liter) dan itu cukup untuk menghilangkan hadas besar. Kita harus ingat bahwa manusia yang paling bertaqwa dan paling wara’ itu adalah beliau Rasulullah. Namun beliau tidak pernah memberat-beratkan diri dalam beribadah dan memang beliau tidak suka kepada orang yang memberat-beratkan diri dalam beribadah.
Mengapa orang bisa ragu alias waswas? Karena pada hakekatnya orang tsb. punya rasa kurang percaya diri. Maka Rasulullah mengajarkan agar kita percaya diri saja untuk tidak mengikuti godaan syetan yang suka menghembus-hembuskan keraguan atau rasa waswas tadi. Orang yang waswas memang perlu dibantu agar punya rasa percaya diri dan merasa cukup dengan apa yang diajarkan atau dicontohkan oleh Rasulullah.

Sumber : www.ldii.or.id
 
Support : Creating Website | Ba'iz Template | Taufik Template
Copyright © 2017. BAITUL IZZAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger